Sejarah Pesantren
Perjalanan Mendirikan Cahaya Ilmu untuk Yatim dan Dhuafa
Perjalanan berdirinya Pesantren Gratis Klaten berangkat dari kesadaran bahwa Allah ﷻ memuliakan hamba-Nya bukan semata karena kekuatan dan kelebihan, tetapi juga melalui kelemahan yang dijaga dan ditolong. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya terdapat kebaikan" (HR. Muslim).
Kedudukan Istimewa Anak Yatim dalam Islam
Islam secara khusus menempatkan anak yatim pada kedudukan yang sangat istimewa. Hal ini ditegaskan Allah ﷻ berulang kali dalam Al-Qur'an, di antaranya dalam firman-Nya: "Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim" (QS. Al-Ma'un: 1–2).
Rasulullah ﷺ bahkan menjanjikan kedudukan yang sangat dekat di surga bagi orang yang mengasuh anak yatim, sebagaimana sabda beliau: "Kedudukanku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti dua jari ini" (HR. Bukhari).
Motivasi Pendiri
Landasan nilai inilah yang menjadi motivasi awal berdirinya Pesantren Gratis Klaten. Pendiri yayasan, Ustadz Ahmad Abid Ashaly, sejak masa SMP telah ditinggal wafat oleh ayahnya. Pengalaman hidup sebagai seorang yatim membentuk kesadaran bahwa kelemahan bukanlah alasan untuk tersisih, melainkan amanah yang harus dijaga dan ditumbuhkan bersama.
Dari sinilah tumbuh cita-cita untuk menghadirkan lembaga pendidikan yang secara khusus menampung, membina, dan memberdayakan anak-anak yatim dan dhu'afa.
"Kami fokus menghimpun dua kebaikan: kekuatan dan kelemahan. Mengumpulkan kebaikan para dermawan, menyatukan kekuatan dan kelebihan untuk menumbuhkan yang membutuhkan. Dengan pengelolaan yang baik, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan."
— Ustadz Ahmad Abid Ashaly
Perjalanan Awal
Setelah menyelesaikan pendidikan di ICBB Yogyakarta, Ustadz Ahmad Abid Ashaly berjuang mencari nafkah dengan menjadi sales buku dan mengajar ngaji privat. Dari proses tersebut, Allah mempertemukan beliau dengan Pak Anang, seorang pengusaha sukses pemilik puluhan outlet Sop Ayam Pak Miin, yang kemudian menjadi salah satu pihak yang mendukung terwujudnya pesantren ini.
Pada tahap awal, kegiatan pembelajaran dilakukan di rumah kontrakan milik Pak Anang. Bersama beberapa sahabat alumni pesantren, di antaranya Ust. Agung Argiyansyah, Lc., M.H., Ust. Okto Suharnanto, dan Ust. Musthofa Ahmada, Lc., M.Ag., berdirilah Rumah Tahfidz Yatim Dhu'afa Ubay bin Ka'ab pada Agustus 2018 dengan jumlah santri awal sebanyak 6 orang.
Berdirinya Rumah Tahfidz Yatim Dhu'afa Ubay bin Ka'ab dengan 6 santri pertama di rumah kontrakan milik Pak Anang
Yayasan resmi terdaftar secara hukum dengan nama Yayasan Bina Insani Yatim Dhuafa
Allah ﷻ memudahkan hadirnya tanah wakaf yang berlokasi di Tempel, Jebugan, yang kemudian dibangun mushola dan asrama santri
Lembaga ini secara resmi menggunakan nama Pesantren Gratis Klaten sebagai identitas pesantren
Luas lahan wakaf terus bertambah hingga mencapai ±12.655 m²
Pesantren Gratis Klaten secara resmi memperoleh izin operasional dari Kementerian Agama Republik Indonesia
"Dari cita-cita sederhana seorang anak yatim yang ingin membantu sesama, lahirlah lembaga pendidikan yang kini menjadi rumah bagi puluhan anak untuk belajar, bermimpi, dan tumbuh menjadi generasi Qur'ani yang bermanfaat bagi umat."
